JAKARTA, Vospol.com — Harga emas dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa pagi, di tengah sikap investor yang masih menahan diri menanti rilis sejumlah data penting ekonomi Amerika Serikat (AS). Fluktuasi harga terus terjadi, mencerminkan ketidakpastian pasar terhadap dampak kebijakan tarif baru AS terhadap prospek ekonomi global.
Per Selasa (29/4/2025) pukul 07:46 WIB, harga emas di pasar spot tercatat turun 0,17% ke level US$ 3.331,8 per troy ons. Ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga sempat menguat 0,53% ke US$ 3.337,5 per troy ons. Secara mingguan, harga emas masih mencatatkan penurunan tipis sebesar 0,12% (point-to-point).
Pasar Bersikap Wait and See
Pelemahan harga emas tidak terlepas dari sikap wait and see investor menjelang rilis data ekonomi penting dari AS. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah dampak kebijakan tarif bea masuk baru yang dicanangkan Presiden Donald Trump terhadap dunia usaha dan daya beli masyarakat.
Pada Senin (28/4/2025), Federal Reserve cabang Dallas merilis data indeks aktivitas manufaktur yang menunjukkan kontraksi signifikan. Pada April, indeks tersebut berada di angka -38,5—turun 19,5 poin dari bulan sebelumnya dan menjadi level terendah sejak Mei 2020, saat pandemi Covid-19 baru merebak.
Data survei juga mengungkap kekhawatiran pelaku usaha terhadap kebijakan tarif baru. Hampir 60% responden menyatakan bahwa tarif tinggi akan berdampak negatif terhadap bisnis mereka. Meskipun mayoritas perusahaan berencana menaikkan harga jual ke konsumen, sebanyak 38% menyebutkan akan sulit merealisasikan hal tersebut.
“Harga-harga di AS sudah naik lebih dari 20% dalam 4 tahun terakhir. Jadi, kenaikan harga lebih lanjut akan sangat memberatkan konsumen,” ungkap laporan tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp 10.000 per Gram, Ini Imbasnya bagi Investor
Seorang responden dari industri percetakan mengatakan, “Isu tarif ini kacau, dan kami melihat vendor sudah mulai menaikkan harga. Kami pun akan menaikkan harga di tingkat konsumen.”
Tekanan ini memperkuat kekhawatiran pasar bahwa inflasi akan kembali meningkat dan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Data Penting Jadi Penentu Arah Harga Emas
Pasar kini menanti rilis dua data penting yang dijadwalkan besok malam waktu Indonesia, yakni data inflasi AS dan pembacaan awal (advance reading) pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025. Kedua data ini akan menjadi indikator awal bagaimana perekonomian AS merespons kebijakan tarif baru.
Hasil dari rilis ini berpotensi memengaruhi arah harga emas ke depan, mengingat emas merupakan salah satu aset yang sensitif terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.
Dari sisi teknikal dalam kerangka waktu harian (daily time frame), harga emas masih berada di zona bullish. Indikator Relative Strength Index (RSI) tercatat di level 61,86, yang menunjukkan momentum penguatan masih dominan karena berada di atas angka 50.
Sementara itu, indikator Stochastic RSI berada di level 14,98. Ini mengindikasikan posisi oversold atau jenuh jual, yang bisa menjadi sinyal pembalikan arah harga dalam waktu dekat.
Meski demikian, analis menilai bahwa harga emas masih berada dalam fase konsolidasi, mengingat kenaikan harga yang sudah cukup signifikan sejak awal tahun.
Secara year-to-date (YTD), harga emas telah melesat 26,84%. Dalam satu tahun terakhir, kenaikannya bahkan mencapai 45,27%.
Untuk hari ini, pelaku pasar disarankan mencermati level support di kisaran US$ 3.324 per troy ons, yang juga bertepatan dengan Moving Average (MA) 5. Jika level ini tembus, maka harga berpotensi melanjutkan penurunan ke target berikutnya di US$ 3.303 per troy ons.
Di sisi lain, level resistensi terdekat berada di US$ 3.346 per troy ons. Jika berhasil ditembus, harga emas bisa melaju menuju target optimistis di US$ 3.388 per troy ons.








