Ada yang salah di tubuh pendidikan kita. Di balik jargon “mencerdaskan kehidupan bangsa”, ada aroma busuk yang perlahan tercium praktik perebutan posisi di sekolah yang menyingkirkan mereka yang sudah lama mengabdi.
Fenomena ini semakin sering terdengar: guru tidak tetap (GTT) yang sudah bertahun-tahun berjuang dengan honor minim tiba-tiba disingkirkan, hanya karena ada “orang baru” dari sekolah lain yang ingin masuk yang biasanya dibekingi oleh kekuatan tertentu. Apakah ini pendidikan atau politik kekuasaan berkedok pendidikan?
GTT yang setiap hari berhadapan dengan realita kelas, mengajar dengan keterbatasan tanpa mengeluh, mendadak harus tersingkir tanpa alasan jelas. Sementara kursi mereka diisi oleh sosok yang datang dengan “surat sakti” dan kedekatan dengan pihak berwenang. Ironi besar ketika mereka yang paling berjasa justru dianggap tidak layak, dan mereka yang paling dekat dengan kekuasaan justru dianggap paling pantas.
Bukankah guru seharusnya menjadi teladan moral? Lalu di mana moral itu ketika jabatan dan posisi menjadi rebutan, bahkan di ruang yang seharusnya suci seperti sekolah? Dunia pendidikan kini tampak lebih sibuk mengatur siapa duduk di mana, bukan bagaimana mendidik anak bangsa dengan benar.
Kita tidak sedang bicara tentang mutasi biasa. Kita sedang bicara tentang sistem yang rusak — sistem yang memprioritaskan “siapa yang punya akses”, bukan “siapa yang sudah berdedikasi”. Akibatnya, banyak GTT kehilangan semangat dan lembaga pendidikan kehilangan wajah kemanusiaannya.
Pemerintah daerah dan mementerian pendidikan tak bisa terus diam. Jika mereka menutup mata, berarti mereka turut menjadi bagian dari praktik ketidakadilan ini. Dunia pendidikan tidak boleh tunduk pada kepentingan kelompok atau permainan kursi.
Sekolah bukan panggung politik kecil. Sekolah adalah tempat suci tempat nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan pengabdian seharusnya hidup. Jika perebutan posisi dibiarkan, jangan salahkan siapa pun ketika anak-anak nanti tumbuh belajar bahwa “yang kuat dan dekat kekuasaanlah yang menang”.
Dan ketika itu terjadi, sesungguhnya bukan GTT yang kalah tapi pendidikan kita yang hancur pelan-pelan.
