FPM Pertanyakan Penghargaan Pariwisata untuk Bupati Sumenep

Achmad Fauzi Wongsojudo saat menerima penghargaan sebagai tokoh pendorong pariwisata dan ekonomi daerah di ajang detikcom Awards 2024.

SUMENEP, Vospol.com – Komitmen Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, terhadap sektor pariwisata selama ini kerap disuarakan sebagai salah satu fokus utama pembangunan daerah. Ia bahkan menerima penghargaan dari salah satu media online sebagai Tokoh Pendorong Wisata dan Perekonomian Daerah.

Namun, penghargaan tersebut menuai sorotan dari Front Pemuda Madura (FPM). Organisasi ini mempertanyakan relevansi gelar yang disematkan kepada Fauzi dengan kondisi riil pengelolaan pariwisata di Sumenep.

“Gelar itu kan seharusnya mencerminkan kontribusi nyata dan keberhasilan Fauzi dalam mengembangkan destinasi serta industri pariwisata lokal. Tapi fakta ril di lapangan justru bertolak belakang,” kata Ketua Umum FPM, Asip, pada Minggu (4/5/2025).

Asip menyoroti salah satu objek wisata unggulan di Sumenep, yaitu Pantai Lombang, yang dinilainya mengalami penurunan kualitas, khususnya dari segi fasilitas umum. Ia menyebut buruknya kondisi toilet di kawasan tersebut sebagai bukti kurangnya perhatian serius dari pemerintah daerah.

“Dia gembar-gembor seolah telah melakukan banyak hal untuk pembangunan pariwisata di Sumenep. Faktanya, kondisi Pantai Lombang yang notabene dikelola sendiri oleh Pemkab Sumenep justru terkesan tak terawat sampai menjadi sorotan temen-temen media,” ujarnya.

Lebih lanjut, Asip mempertanyakan dasar pemberian penghargaan yang diterima oleh Fauzi. Menurutnya, penghargaan tersebut tidak mencerminkan kondisi di lapangan dan terkesan hanya bersifat formalitas belaka.

“Atas dasar apa penghargaan itu diberikan? Penghargaan itu tidak merefleksikan kondisi ril lapangan. Bagi saya, itu hanya penghargaan seremonial yang tidak berkorelasi dengan dampak di lapangan,” katanya.

Ia menegaskan, komitmen terhadap pengembangan pariwisata seharusnya dibuktikan melalui aksi nyata dan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Tanpa langkah konkret dan perubahan signifikan, klaim peduli pariwisata hanya akan menjadi narasi kosong yang jauh dari kenyataan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *